Apa yah kata yang tepat tuk ini, mungkinkah selingkuh? hm…bukan apa-apa hanya saja belakangan ini saya lebih sering singgah dan sedikit demi sedikit rehap rumah maya di multiply hingga rumah ini jarang dikunjungi. Apakah ini dah termasuk dalam selingkuh skala menengah atau dah akut yah ^_^ kalau ada waktu silahkan mampir di www.gerimisjiwa.multiply.com tapi tulisan saya lum banyak disana hanyaartikel yang di copas ^_^ Insya Allah akan rajin lagi menggoreskan pena ini,amiin
Saat ini…kubertanya pada mata
Apa yang selama ini kau lihat?
Apakah pandanganmu tlah terjaga?
Aku pun diam…
Ku bertanya lagi pada mulut…
Bagaimana perkataanmu selama ini?
Berapa hati yang terluka akan semua kata-katamu?
Berapa banyak hati yang tenang atas taujihmu?
Berapa???
Satu…Dua…Tiga…atau bahkan tak ada???
Apakah lebih banyak yang tersinggung akan perkataanmu dibandingkan taujihmu?
Apakah kau yakin mutarobbimu “tersentuh” akan semua charger semangat darimu?
Jawab!!!
Ditulis dalam muhasabah | 2 Komentar »
Suatu ketika, seorang alim diundang berburu. Sang alim hanya dipinjami kuda yang lambat oleh tuan rumah. Tak lama kemudian, hujan turun dengan derasnya. Semua kuda dipacu dengan cepatnya agar segera kembali ke rumah. Tapi kuda sang alim berjalan lambat. Sang alim kemudian melepas bajunya, melipat dan menyimpannya, lalu membawa kudanya ke rumah. Setelah hujan berhenti, dipakainya kembali bajunya. Semua orang takjub melihat bajunya yang kering, sementara baju mereka semuanya basah, padahal kuda yang mereka tunggangi lebih cepat.
Dengan perasaan heran, tuan rumah bertanya kepada sang alim, ”Mengapa bajumu tetap kering?” ”Masalahnya kamu berorientasi pada kuda, bukan pada baju,” jawab sang alim ringan sambil berlalu meninggalkan tuan rumah.
Dalam perjalanan hidup, kadangkala kita mengalami kesalahan orientasi (persepsi) seperti tuan rumah dalam cerita di atas. Kita menginginkan sesuatu namun tidak memiliki orientasi seperti yang diinginkan, sehingga akhirnya kita tidak mendapatkan apa yang diinginkan.
Begitu pula dalam menjalankan ibadah Ramadhan. Banyak orang yang menginginkan ibadahnya di bulan Ramadhan dapat merubah dirinya menjadi lebih baik. Namun setelah Ramadhan, ternyata sifat dan perilakunya kembali seperti semula. Tak berubah secara signifikan. Ia hanya mendapatkan lapar dan haus. Persis seperti yang disabdakan Nabi saw, ”Betapa banyak orang yang berpuasa, tetapi ia tidak mendapatkan apa pun, kecuali lapar dan haus.”
Ditulis dalam tazkiyatun nafs | 4 Komentar »
Banyak orang tertawa tanpa (mau) menyadari sang maut sedang mengintainya.
Banyak orang cepat datang ke shaf shalat layaknya orang yang amat merindukan kekasih. Sayang ternyata ia datang tergesa-gesa hanya agar dapat segera pergi.
Seperti penagih hutang yang kejam ia perlakukan Tuhannya. Ada yang datang sekedar memenuhi tugas rutin mesin agama. Dingin, kering dan hampa, tanpa penghayatan. Hilang tak dicari, ada tak disyukuri.
Dari jahil engkau disuruh berilmu dan tak ada idzin untuk berhenti hanya pada ilmu. Engkau dituntut beramal dengan ilmu yang ALLAH berikan. Tanpa itu alangkah besar kemurkaan ALLAH atasmu.
Ditulis dalam tazkiyatun nafs | 2 Komentar »

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An-Nahl: 18)
Yah….inilah dunia baruku. Dari seorang yang super duper sibuk dengan agenda syuro’ lalu bermetamorfosis menjadi seorang tentor Ekonomi di 2 Bimbingan Belajar di Kota Medan dengan mengurangi jam terbang syuro’ terutama dah “kadaluarsa” dalam kepengurusan wajihah di kampus. Walau diawal aku rindu akan suasana “gerakan” dikampus….suasana syuro’….
Ditulis dalam cuap-cuapQ | 2 Komentar »
Mungkin terjadi seseorang yang dahulunya saling mencintai akhirnya saling memusuhi dan sebaliknya yang sebelumnya saling bermusuhan akhirnya saling berkasih sayang. Sangat dalam pesan yang disampaikan Kanjeng Nabi SAW : “Cintailah saudaramu secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi orang yang kau benci. Bencilah orang yang kau benci secara proporsional, mungkin suatu masa ia akan menjadi kekasih yang kau cintai.” (HSR Tirmidzi, Baihaqi, Thabrani, Daruquthni, Ibn Adi, Bukhari). Ini dalam kaitan interpersonal. Dalam hubungan kejamaahan, jangan ada reserve kecuali reserve syar’i yang menggariskan aqidah “La tha’ata limakhluqin fi ma’shiati’l Khaliq”. Tidak boleh ada ketaatan kepada makhluq dalam berma’siat kepada Alkhaliq. (HR Bukhari, Muslim, Ahmad dan Hakim).
Doktrin ukhuwah dengan bingkai yang jelas telah menjadikan dirinya pengikat dalam senang dan susah, dalam rela dan marah. Bingkai itu adalah : “Level terendah ukhuwah (lower), jangan sampai merosot ke bawah garis rahabatus’ shadr (lapang hati) dan batas tertinggi tidak (upper) tidak melampaui batas itsar (memprioritaskan saudara diatas kepentingan diri).
Bagi kesejatian ukhuwah berlaku pesan mulia yang tak asing di telinga dan hati setiap ikhwah : “Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi” (Jika ia tidak bersama mereka, ia tak akan bersama selain mereka. Dan mereka bila tidak bersamanya, akan bersama selain dia). Karenanya itu semua akan terpenuhi bila `hati saling bertaut dalam ikatan aqidah’, ikatan yang paling kokoh dan mahal. Dan ukhuwah adalah saudara iman sedang perpecahan adalah saudara kekafiran (Risalah Ta’lim, rukun Ukhuwah).
Gairah Cinta dan Kelesuan Ukhuwah
Karena bersaudara di jalan ALLAH telah menjadi kepentingan dakwah-Nya, maka “kerugian apapun” yang diderita saudara-saudara dalam iman dan da’wah, yang ditimbulkan oleh kelesuan, permusuhan ataupun pengkhianatan oleh mereka yang tak tahan beramal jama’i, akan mendapatkan ganti yang lebih baik. “Dan jika kamu berpaling, maka ALLAH akan gantikan dengan kaum yang lain dan mereka tidak akan jadi seperti kamu” (Qs. 47: 38).
Ditulis dalam harokah | Leave a Comment »
“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal belum datang kepadamu (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Bilakah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (Al-Baqarah: 214)
Ayat ini dan ayat-ayat yang senada dengannya dapat ditemukan pada tiga tempat dalam Al-Qur’an, yaitu surah Ali Imran: 142 yang berbunyi, “Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga, padahal Allah belum mengetahui orang-orang yang berjuang diantara kamu dan orang-orang yang bersabar”, dan surah Al-Ankabut: 2-3, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, sehingga Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”. (Al-Ankabut: 2-3).
Ditulis dalam harokah | 1 Komentar »
Alhamdulillah…
KAMMI USU tlah mekar…dan ini tlah dihujam oleh para “pendahulu”. Kini USU (Universitas Sumatera Utara) tlah memiliki 3 Komisariat. Komisariat Merah Putih (FE, FISIP, FS, FH, FK, FKG, Fpsi), Komisariat Teknik dan Komisariat Nusantara (FMIPA, FF dan FP).
Bukan amanah yang mudah dan sepele tuk menjalankan program regenerasi dan pengkaderan di 3 komisariat ini. Dan tidaklah begitu sukar hingga menjadi momok yang menakutkan dan menjadi mimpi buruk di malam hari. Dengan potensi di tiap fakultas, kader yang potensial kan mudah “dibentuk”.
Ditulis dalam cuap-cuapQ | 4 Komentar »
Melihat dan mencermati suatu masalah dari berbagai sisi, tentu akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dibandingkan bila kita melihatnya dari satu sisi. Demikian pula ketika kita melihatnya dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu tentu akan menghasilkan penilaian yang berbeda dibandingkan kita melihatnya hanya dengan satu disiplin ilmu saja.
Karenanya untuk bisa memahami perkembangan dakwah di era jahriyah jamahiriyah dan agar mampu mengelola negara yang menganut sistem demokrasi, memerlukan kedalaman ilmu dan peningkatan kapasitas keilmuan. Keterbatasan kapasitas keilmuan atau ketidakmampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang hanya akan membuat kita terkungkung dengan asumsi-asumsi atau kesimpulan yang menyesatkan. Ketika ada berita sebuah partai dakwah melakukan kerjasama dengan non muslim, ada orang yang mengatakan: Tak satu pun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi pernah menerima bantuan dari kaum kafir. Bahkan ketika seorang musyrik menawarkan diri untuk ikut dalam sebuah jihad, Nabi mengujinya, Apakah anda beriman kepada Allah? Nabi spontan menolaknya dengan mengatakan, Aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada musyrik. Menyimpulkan bahwa tak satupun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah menerima bantuan dari kaum kafir adalah kesimpulan yang sangat naif.
Ditulis dalam harokah, kesehatan | Leave a Comment »








