Saat ini…kubertanya pada mata
Apa yang selama ini kau lihat?
Apakah pandanganmu tlah terjaga?
Aku pun diam…
Ku bertanya lagi pada mulut…
Bagaimana perkataanmu selama ini?
Berapa hati yang terluka akan semua kata-katamu?
Berapa banyak hati yang tenang atas taujihmu?
Berapa???
Satu…Dua…Tiga…atau bahkan tak ada???
Apakah lebih banyak yang tersinggung akan perkataanmu dibandingkan taujihmu?
Apakah kau yakin mutarobbimu “tersentuh” akan semua charger semangat darimu?
Jawab!!!
Berapa banyak perkataan yang tlah kau amalkan?
Apakah kau ingat akan ini “Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan……..
Ku seolah terbenam…karam dalam lautan dosaku…
Dadaku sesak…tak terasa….ku menitikkan air mata…
Tiba-tiba ku mendengar “jangan-jangan tangisanmu hanya tangisan palsu…tangisan itu hanya bisa menipu manusia…tidak untuk Rabb-mu”
Ya Rabb….manusia seperti apa aku ini….
Terlalu sombong dengan segala yang tlah ku perbuat
Terlalu sombong menyebut diri aktivis dakwah…sementara ruhiyah terbenam dalam pekatnya dosa…
Lagi-lagi….ku bertanya pada tanganku…
Tangan ini….manfaat apa yang tlah kulakukan?
Seberapa besar tanganku ini kumanfaatkan tuk gapai pahala-Mu?
Akupun beralibi pada diriku “Tanganmu sudah cukup banyak manfaat tuk dakwah…apa yang kau sangsikan. Bukankah kau selalu memanfaatkannya membantu kelancaran dakwahmu? Takbir saat gelora jihadmu membara, gotong royong, menuliskan ide-idemu bahkan menulis hasil syuro’ dalam setiap aktivitasmu”
Aku mulai tersenyum akan alibiku….tiba-tiba ku mendengar “Semuakan sia-sia…apakah kau ingat seberapa besar kau riya di depan teman-temanmu? Perbaiki lagi ke ikhlasanmu”
“Dimana tanganmu saat saudara-saudaramu terjepit dalam himpitan hidup? Apakah kau cepat mengulurkan tanganmu untuk membantunya? Kau hanya pura-pura tidak tahu…padahal selama ini dia selalu menanyakan kabarmu…apakah kau tak bisa membaca matanya nan penuh dengan hempasan masalah? Ataukah kau terlalu bodoh dan kurang peka akan saudaramu padahal selama ini kau selalu membawakan materi Ukhuwah Islamiyah, Taqliful Qulb dan lainnya…sungguh miris”
Berapa banyak sms ato telpon bahkan misscall yang membuat lawan jenismu terbuai terbang akan perhatianmu yang nyeleneh itu? Apakah tanganmu tidak turut andil? Hingga banyak korban yang bergelimpangan….
Gila!!! katanya aktivis dakwah….tapi hati belum bisa mengontrol tangan tuk tidak berbuat “iseng”….apakah kau tak belajar dari tragedi hati ikhwah yang lain? kau hanya beralibi….ini fitrah….sungguh memprihatinkan jawabanmu!!!
Sunyi…tak ada kata yang dapat kuucapkan lagi
Lalu ku melihat kebawah…
Kakiku….apa yang bisa ku andalkan pada kakiku?
“Yah…kaki ini selalu kugunakan tuk ikut aksi demi ummat, tuk pergi halaqoh, syuro’, dan aktivitas lainnya” ku tersenyum lagi
“Hanya itu? bukankah pergi aksi hanya untuk menunjukkan ini loh aq…aq aktivis yang haroki. Ingat berapa kali kau pergi halaqoh on-time? jangan-jangan kau yang paling terakhir datang dan duluan cabut…atau mereka sudah tak perduli hadirmu di majelis penuh cinta itu, atau jangan-jangan murobbi/ah mu sudah pasrah dengan tingkahmu yang selalu membuat sensasi yang luar biasa. Tak jauh beda dengan syuro’…..apa yang bisa kau banggakan?
Aku tak bisa membanggakan apa yang telah ku perbuat. Karena semua tlah rusak karena hatiku tlah terkotori dengan hal-hal yang membuatku terlena…membuatku bangga akan segala yang tlah ku perbuat….bangga akan predikat AKTIVIS DAKWAH
Aku mulai menangis…..
Namun aku bahagia karena aku masih bisa menangisi dosa-dosaku, aku bahagia karena hatiku belum dikunci dan ditutup rapat oleh Rabb-ku
Rabb…..
Aku hamba-Mu yang hina…
Ampunilah aku…..
Ku kan hancurkan segala egoku dan banggaku akan gelar aktivis dakwah itu hingga aku merasa eksklusif
Ku kan lakukan apa saja…bahkan merangkak tuk mendapat ampunan-Mu
Sampaikan aku pada Ramadhan nan dirindukan mukmin
Basuh semua dosa yang tlah ku perbuat dengan ampunan-Mu
Terimalah taubatku….
Ku kan gapai Ramadhan nan penuh maghfirah…..
Ku ingin hanyut dalam detik-detik ibadahku
Lantunan ini adalah lafadz rinduku pada Ramadhan
Medan, 19 Agustus 2009
Saat Medan dihiasi rintik hujan
Saat-saat memperkuat fondasi hidup selama 22 tahun 16 hari Masehi
Tuk ikhwahfillah….
Semoga Ramadhan membawa berkah…menjadi moment renovasi diri dan melejitkan kembali ghiroh nan mulai karam
Afwan jika selama ini ana banyak salah…ana tak lebih manusia nan alpa







Aslm…Berkunjung lagi kesini di hari pertama Ramadhan…
_
Mohon maaf ats sgala ksalahan…
Kunjungan kali ini qu membawa bingkisan…
Smoga ukhti berkenan…
(Bingkisan dapat diambil di http://definda.wordpress.com)
Smoga bs mempererat persaudaraan…
_Salam dr Finda yg menawan
subhanallah…baru nemu situsnya jadi komentarnya pas hari terakhir ramadhan…