Ini bukanlah acara muhasabah saat sanlat ataupun acara dauroh dimana peserta akan menangis dibawa kedalam lautan pertobatan sehingga karam akan dosa yang telah dilakukan. Hanya sekedar muhasabah harian selama di angkot menuju tempat kerja dan tempat-tempat tujuan lainnya…yah beginilah nasib anak kos yang tak punya kuda besi pribadi
2 hari yang lalu…
Pagi itu seperti pagi biasa dengan pagi-pagi yang lain, tepat 07.15 WIB diriku naik kesalah satu angkot menuju tempat kerja di jalan Gatot Subroto berwarna ijo-merah di kota mentropolitan…yaah Medan selain bermacam ragam warna angkot di kota ini…kita juga harus hafal nomernya yang berbeda jurusan dan yakinlah tidak semua warga Medan hafal nomer dan rute angkot jalanan di kota ini. Setelah masuk dan menemukan tempat yang nyaman…selang beberapa saat kemudian diriku mulai mengamati teman sejawat di angkot ini…seperti biasa aku memang suka mengamati orang-orang disekitarku dan mengumpulkan bermacam-macam asumsi dari sorot mata mereka, cara mereka berbicara dan mungkin saja dari penampilan mereka.
Jam segini tidak heran angkot dibanjiri oleh para siswa SD, SMP, SMA dan sejajaran dengan itu. Tak ada yang lebih menarik perhatianku di dalam angkot ini selain bocah laki-laki yang duduk disebelahku. Bocah ini berbadan kecil, aku mulai mengamati nama sekolahnya, nampak semrawut pakaiannya…bukan hanya karena pakaian seragam kebangsaannya itu tidak disetrika namun pada lengan dan pinggang kanan pakaiannya koyak. Sama halnya dengan tas…tidak jauh berbeda dengan pakaiannya, rambut anak ini juga tampaknya tidak disisir dengan rapi, aku membatin duuh dek…niat gak sih sekolah. Aku mulai mengamati sepatunya…nampak kumuh dan telah pudar warna hitamnya…kasihan batinku kembali, sangat jauh berbeda dengan semua anak yang ada di angkot ini. Aku kembali membatin ini bukan maunya anak ini …kalau disuruh memilih pasti anak ini akan memilih pergi ke sekolah dengan keadaan sempurna seperti anak-anak lainnya.
Pikiranku melayang ke 15 tahun silam…saat aku setiap paginya pergi ke sekolah dengan semangat dan penuh suka. Saat dimana aku memakai baju merah-putih…aku sangat menikmati duniaku. Saat segala kebutuhan sekolahku terpenuhi walaupun keluargaku bukanlah dari keluarga yang kaya raya namun aku sangat senang dengan segala bekal sekolah yang ku miliki. Pakaian yang tak pernah koyak, sepatu yang selalu nyaman di pakai, alat tulis yang lucu, buku-buku yang berwarna-warni dan lainya.
Yaah…pagi ini…diangkot ini aku bermuhasabah betapa banyak nikmat Allah yang patut aku syukuri dari aku TK sampai saat ini aku masih bisa mengenyam pendidikan dengan nyaman. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”.
Aku berbicara kembali dalam diamku…masih banyak anak-anak yang nasibnya seperti bocah ini, bukan maunya mereka seperti ini, masih banyak penerus bangsa yang tidak mengenyam pendidikan bahkan di daerah tertentu orang miskin dilarang sekolah...ya Rabb lapangkan dan mudahkanlah rezeki mereka…kembali ku bermimpi akan zaman kejayaan Islam di masa Rasulullah dan sahabat dulu kan ada di saat ini, di mana tidak ada orang yang terlalu kaya dan di sisi lain ada orang yang terlalu miskin.
Ini tidaklah terjadi di kota ini saja….nun di semua pelosok negeri masih banyak fenomena seperti ini. Semoga mata hati para penimbun harta bisa terbuka untuk mengulurkan tangannya.
Dari Abu Hurairah ra, Nabi SAW, bersabda: “Barang siapa yang melepaskan satu kesusahan seorang mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barang siapa yang menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat.
4 hari yang lalu…
Kembali bermuhasabah selama di angkot menuju salah satu tempat di kota Medan. Ternyata menjadi angkoters tidak selamanya merugi karena sesak dan sumpeknya
selain bebas biaya parkir juga bisa bermuhasabah (gak promo untuk naik angkot looo!!!
)
Kali ini bukan orang yang berada diangkot yang menarik perhatianku…namun anak-anak pemulung yang duduk diatas tumpukan bukit sampah. Kasihannya mereka seharusnya dengan usia saat ini mereka pergi ke sekolah, bermain dan menikmati indahnya masa kecil. Namun mereka dihadapkan pada kehidupan yang berat seperti ini. Lagi-lagi aku membatin inikan bukan maunya mereka!!! Rasanya inginku katakan pada orang tuanya dimana tanggungjawab mereka sebagai orang tua.
Angkot yang ku naiki menjauh dari pemandangan tadi…aku teringat pada 2 adikku yang saat ini masih sekolah. Alhamdulillah ya Rabb…adik-adikku masih bisa bersekolah dengan layak samapi saat ini dan aku takkan membiarkan mereka susah!!! karuniakanlah hidayah-Mu pada adik-adikku ya Rabb, aamiin.
Allah senantiasa menolong hamba Nya selama hamba Nya itu suka menolong saudaranya”. (HR. Muslim, lihat juga Kumpulan Hadits Arba’in An Nawawi hadits ke 36).
Dan lagi-lagi ini tidak hanya ada di Medan Bung!!!
6 hari yang lalu…
Pulang kerja saat melewati tikungan…aku melihat ayah dan anaknya berada di emperan toko. Sang ayah mengelus kepala anaknya yang menurutku berusia 5 tahun, terlihat jelas beratnya beban hidup di raut wajah sang ayah yang terlihat tua dan lemah itu. Numun sosok tua ringkih itu masih bisa tersenyum tulus padaku…sungguh luar biasa dirimu pak.
Oh…ayahku…aku rindu padamu. Terbanyang slide-slide perjuangan ayahku demi membesarkan dan menyekolahkan kami. Ya Rabb…hanya Engkau yang bisa membalas semua pengorbanan ayah. Karuniakanlah hidayah-Mu pada beliau, aamiin
Lagi-lagi episode hidup seperti ini banyak terjadi di sekitar kita.
8 hari yang lalu…
Saat turun dari angkot…lagi-lagi ada hal untuk senantiasa bersyukur akan nikmat ini. Bersyukur dalam ketiadaan dan bersyukur akan nikmat yang ada. Seorang ibu tua memberi makan anaknya dari makanan sisa di tong sampah. Kerasnya hidup yang dirimu jalani dik…mungkin jika aku berada di posisimu aku takkan sanggup hadapi ini.
Bayangku kembali pada sosok beribu kilometer dari kota Medan….dialah ibuku…wanita tegar yang lembut yang telah melahirkanku dan memberiku beribu kasih yang takkan sanggup ku balas. Terbayangku betapa banyak pengorbanan yang dihadapi beliau demi membesarkan kami. Terasa menyayat saat air matanya keluar menghadapi perjalanan hidup ini. Oh ibundaku yang ku cinta…sampai saat ini aku belum bisa membahagiakanmu. Rabb…berilah hidayah-Mu pada beliau…ibundaku…
“Dan Kami perintahkan kepada manusia (untuk berbakti kepada) kedua orangtuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orangtuamu dan hanya kepada-Kulah kembalimu.“ (Luqman: 14)
namun tidak semua wanita yang menjadi ibu saat ini menikmati perannya menjadi ibu, bahkan banyak yang mengeksploitasi anaknya sendiri, tragis!!!
10 hari yang lalu…
Saat perjalanan di angkot. Seorang ibu dengan semangatnya bercerita padaku tentang bahagianya beliau yang akan menjadi seorang ibu. Sudah begitu lama beliau menunggu sebuah janin yang akan tumbuh dalam rahimnya. Akupun sangat antusias mendengarkan beliau bercerita tentang detik-detik kesabaran menunggu si buah hati ini…walaupun banyak saudara-saudaranya yang mencemooh beliau karena lamanya mendapat keturunan.
Namun di sudut negeri yang lain masih banyak wanita yang tidak tahu akan sakralnya menjadi seorang ibu. Betapa tingginya derajat menjadi seorang ibu. Muhasabah bagiku untuk menjadi ibunda yang terbaik bagi anak-anakku kelak…
*****************************
Tidak hanya di angkot…dimanapun kita berada…apapun yang kita hadapi semua tak putus akan kesyukuran akan semua nikmat Allah. Ya Rabb jadikanlah kami menjadi hamba-Mu yang senantiasa bersyukur…aamiin
Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.”
(QS. Ibrahim: 7)
”Siapa yang berjalan menolong orang yang susah maka Allah akan menurunkan baginya tujuh puluh lima ribu malaikat yang selalu mendoakannya dan dia akan tetap berada dalam rahmat Allah selama dia menolong orang tersebut dan jika telah selesai melakukan pertolongan tersebut, maka Allah akan tuliskan baginya pahala haji dan umrah….” (H.R. Thabrani)
Medan, 24 Februari 2010
15.00 WIB
saat titik-titik hujan turut bertasbih akan kebesaran-Mu..Rabbku ![]()






hohohoo…naek angkot emang enaknya itu fy..bisa ngamatin banyak orang dan dapat banyak pelajaran, tapi juga terancam kena serangan jantung karena supir angkot sekarang makin menggila
Setiap mata yang melihat,
telinga yang mendengar,
dan lisan yang berucap
pasti akan tercatat dalam lembaran sejarah kehidupan setiap diri
Di setiap langkah kaki yang terpijak
di setiap degup jantung yang basah
maka akan selalu menjadi jejak…akankah itu amal sholeh ataukah amal yang salah…
Barakallaahu fiik ya ukhty
Membaca tulisan ini…ta tersadar air mata menetes….teringat kembali Ayah dan Ibu yang jauh di seberang……
Assalamualaikum salam kenal nama saya delis boleh saya gabung untuk acara ini / kegiatan ini alamatnya dimana ya?????? mohon balasan nya
wa’alaykumsalam…
acara yang mana yah?
ini tulisan pengalaman pribadi aja bukan sebuah agenda atau acaraa
subhaanalloh…muhasabah ini mengingatkanku pada hari-hari yang sama seperti yang ukhti alami ya dalam perjalann diangkot..yang hampir membuatku bisa menangis..namun seraya bersyukur kepada Nya..semoga kita bisa selalu mengambil hikmah dari setiap pristiwa hidup…ini..barakallaahu fiik…
Seorang ulama’ mursyid bermadah “Masa itu adalah umur kita, kalau kita tidak mengisi masa dengan sebaik-baiknya bererti kita telah mensia-siakan umur kita”.
Tempoh perjalanan kehidupan di dunia ini cukup singkat. Mungkin kita rasa hidup 60 atau 70 tahun sebagai suatu masa yang agak panjang. Namun hakikatnya kebanyakan kita lebih banyak membuang usia sia-sia berbanding menggunakan setiap detik yang ada dengan penuh manfaat.
Belayar di lautan kehidupan, biarpun tidak tahu ke mana arah yang hendak di tuju. Kita ini telah diarah jalan mana yang harus dituju. Telah disediakan kemudi, telah diberi pendayung. Cuma tinggal untuk melayarkan bahtera kehidupan sahaja.