tuk teman seperjuanganku…

Alhamdulillah…

KAMMI USU tlah mekar…dan ini tlah dihujam oleh para “pendahulu”. Kini USU (Universitas Sumatera Utara) tlah memiliki 3 Komisariat. Komisariat Merah Putih (FE, FISIP, FS, FH, FK, FKG, Fpsi), Komisariat Teknik dan Komisariat Nusantara (FMIPA, FF dan FP).

Bukan amanah yang mudah dan sepele tuk menjalankan program regenerasi dan pengkaderan di 3 komisariat ini. Dan tidaklah begitu sukar hingga menjadi momok yang menakutkan dan menjadi mimpi buruk di malam hari. Dengan potensi di tiap fakultas, kader yang potensial kan mudah “dibentuk”.

Baca lebih lanjut

Iklan

PENTINGNYA KREDIBILITAS KEILMUAN

Melihat dan mencermati suatu masalah dari berbagai sisi, tentu akan menghasilkan kesimpulan yang berbeda dibandingkan bila kita melihatnya dari satu sisi. Demikian pula ketika kita melihatnya dengan menggunakan berbagai disiplin ilmu tentu akan menghasilkan penilaian yang berbeda dibandingkan kita melihatnya hanya dengan satu disiplin ilmu saja.

Karenanya untuk bisa memahami perkembangan dakwah di era jahriyah jamahiriyah dan agar mampu mengelola negara yang menganut sistem ‘demokrasi’, memerlukan kedalaman ilmu dan peningkatan kapasitas keilmuan. Keterbatasan kapasitas keilmuan atau ketidakmampuan melihat masalah dari berbagai sudut pandang hanya akan membuat kita terkungkung dengan asumsi-asumsi atau kesimpulan yang menyesatkan. Ketika ada berita sebuah partai dakwah melakukan kerjasama dengan non muslim, ada orang yang mengatakan: ‘Tak satu pun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi pernah menerima bantuan dari kaum kafir’. Bahkan ketika seorang musyrik menawarkan diri untuk ikut dalam sebuah jihad, Nabi mengujinya, Apakah anda beriman kepada Allah? Nabi spontan menolaknya dengan mengatakan, “Aku tidak akan pernah meminta bantuan kepada musyrik.” Menyimpulkan bahwa tak satupun sumber yang menyebutkan bahwa Nabi saw pernah menerima bantuan dari kaum kafir adalah kesimpulan yang sangat naif.

Baca lebih lanjut

Izinkan Kami Menata Ulang Taman Indonesia

“Sejarah adalah catatan statistik

tentang denyut hati, gerak tangan, langkah kaki, dan ketajaman akal.”

(Malik Bin Nabi, Ta`ammulat; 35)

 

 

 

Ledakan Energi Peradaban

Empat syuhada berangkat pada suatu malam,

gerimis air mata tertahan di hari keesokan,

telinga kami lekapkan ke tanah kuburan dan simaklah itu sedu-sedan,

Mereka anak muda pengembara tiada sendiri,

mengukir reformasi karena jemu deformasi,

dengarkan saban hari langkah sahabat-sahabatmu beribu menderu-deru,Kartu mahasiswa telah disimpan dan tas kuliah turun dari bahu.
Mestinya kalian jadi insinyur dan ekonom abad dua puluh satu.

 

Tapi malaikat telah mencatat indeks prestasi kalian tertinggi di Trisakti bahkan di seluruh negeri,

karena kalian berani mengukir alfabet pertama dari gelombang ini dengan darah arteri sendiri,

Merah Putih yang setengah tiang ini,merunduk di bawah garang matahari,

tak mampu mengibarkan diri karena angin lama bersembunyi.

Tapi peluru logam telah kami patahkan alam doa bersama,

dan kalian pahlawan bersih dari dendam,

karena jalan masih jauh dan kita perlukan peta dari Tuhan.
(Taufik Ismail, 1998)

Begitulah Taufik Ismail lewat sajak berjudul 12 Mei 1998 mengabadikan kepahlawanan empat mahasiswa Trisakti yang gugur diterjang peluru kediktatoran rezim Orde Baru; Elang Mulyana, Hery Hartanto, Hendriawan Lesmana, dan Hafidin Royan. Mereka adalah sebagian dari pelaku baru sejarah Indonesia dan sekaligus fajar yang menandai lahirnya generasi baru, generasi 1998.

Ibu pertiwi seperti menepati janjinya. Janji untuk melahirkan anak-anak yang setia pada cita-cita luhurnya; anak-anak yang membawa keberanian ditengah ketakutan, mengibarkan bendera perlawanan terhadap penindasan, memekikkan gaung pembelaan di tengah pengkhianatan; anak-anak yang memberikan darahnya dengan tulus sebagai mahar untuk kebebasan dan keadilan; anak-anak yang meninggalkan kenikmatan masa mudanya dengan penuh cinta untuk hidup dalam debu dan deru jalanan, bahkan menyerahkan hidupnya agar bangsa ini bisa hidup dengan cara yang lebih baik.

Maka sejarah panjang bangsa ini, setidak-tidaknya dalam hitungan abad ini, ditandai dengan kelahiran generasi demi generasi pada setiap persimpangan sejarah. Jika generasi 98 berhasil menumbangkan Orde Baru, maka generasi 66 berhasil mengakhiri Orde Lama. Dalam (puisi) “Sebuah Jaket Berlumur Darah” Taufik Ismail melukiskan suasana kepahlawanan itu:

Sebuah jaket berlumur darah
kami semua sudah menatapmu
telah berbagi duka yang agung dalam kepedihan bertahun-tahun.

Baca lebih lanjut

SONGSONG MUSDA VI KAMMI DAERAH SUMUT

Sukseskan MUSDA VI KAMMI DAERAH SUMATERA UTARA dgn tema “Dari KAMMI Untuk Bangsa, Lahirkan Muslim Negarawan”, 20-24 Mei 2009.

Gembar gembor MUSDA VI tidak hanya di bicarakan di best camp KAMMDASU saja. Tapi disemua komisariat dan korpus yang nantinya akan berpartisipasi dalam acara ini.

Yang pasti semua berharap, KAMMI SUMUT ke depan akan menjadi mesin cetak Muslim Negarawan yang potensial di segala bidang. Karena kader-kader KAMMI mempunyai potensi yang luar biasa dan perlu diasah lagi. Ini akan berhasil jika komunikasi anatara kammda dan “anak-anaknya” berjalan dengan baik, terutama pengkaderannya.

Masih banyak capaian-capaian yang menanti di hadapan nantinya, semoga semua pihak bisa saling mendukung karena semua adalah satu bangunan.

Riak-riak yang ada biasa dalam sebuah perjalanan, karena dari sini semua pihak bisa saling menambah “bahan kuliahnya” dan menjadi hentakan batin tuk lebih baik lagi, semoga riakan ini tidak menjadi ombak yang menghantam dinding KAMMDASU…

SUKSES TUK MUSDA VI

SEMOGA KAN TERPILIH QIYADAH YANG BENAR-BENAR BISA MEMBAWA KAMMI SUMUT LEBIH BAIK LAGI

(bukan berarti ketua saat ini tidak baik lo!!! ^_^ )

Medan, 14 Mei ’09

Ahmad Yasin: Legenda Ciptakan Kelemahan Jadi Kekuatan Hamas

Pembunuhan terhadap Syeikh Ahmad Yasin lima tahun lalu bukan peristiwa sepintas lalu. Peristiwa itu menjadi pusat renungan bagi seluruh pejuang kebebasan di dunia dan mengingatkan bangsa Arab dan umat Islam akan bahaya hakiki Israel di Palestin.

Gugurnya Syeikh Ahmad Yasin meningkatkan dukungan besar kepada gerakan Hamas bukan hanya di Palestin. Bahkan dukungan bangsa Arab dan Islam semuanya. Sejak saat itu semua orang bertanya tentang Hamas, gerakan yang menggoncang bangunan Israel, gerakan ini mula menyebar secara drastik hingga majoriti Palestin bergabung dengannya. Jika tidak bergabung, maka mereka mendukungnya atau simpati kepada gerakan perjuangan dan ketegaran memperjuangkan prinsip-prinsip dasar Palestin dan menolak rundingan damai dengan Israel.

Baca lebih lanjut

ketika aktivis dakwah bercinta…

resize-of-jatuh

 

Cinta aktivis dakwah adalah cinta seorang hamba dengan spectrum yang luas. Ia melihat kehidupan dengan cinta. Setiap hari, ketika Allah berikan kesadaran dan memasukkannya ke dalam perputaran kehidupan, ia menjalaninya dengan cinta. Apa yang membuat seorang menjadi resah dengan penyimpangan kehidupan. Apa yang menghalangi seorang dari tidur dan istirahat untuk mengurus urusan umat yang kompleks ini. Apa yang membuat seorang rela membelanjakan hartanya, meskipun ia sendiri tidak berharta lebih, untuk meringankan beban saudaranya. Semua itu adalah spectrum cinta aktivis dakwah.

Cinta aktivis dakwah adalah cinta yang lahir dari kerja keras menjaga rasa sayang Allah swt kepadanya. Ia membingkai kehidupannya dengan frame cinta yang hakiki. Masalah terbesarnya adalah jika Allah murka dengan semua rasa dan amalnya. Kebahagiaan terbesarnya adalah ketika Allah merahmati perasaan dan amalnya. Di dalam frame itulah ia menjalankan pentas kehidupannya. Maka ketika ia jatuh cinta, cinta itu membawanya kepada ketaatan. Cinta itu menghantarkannya kepada amalan-amalan yang membuat Allah semakin cinta kepadanya.

Ketika ia jatuh cinta, cinta itu membentenginya dari perbuatan ingkar dan penyimpangan. Cinta aktivis dakwah menghantarkannya kepada kehidupan yang berkah dan penuh rahmat. Ia mengijinkan perasaannya tumbuh dan berbunga hanya dalam bingkai ketaatan. Ketika cinta lawan jenis hadir dalam dirinya, maka itu pun tidak lepas dari komitmen menjaga hak-hak Allah di dalam cinta tersebut. Ia mempersembahkan cinta itu untuk orang yang memberinya jaminan cinta tersebut adalah berkah dan penuh rahmat. Ia menjalankan cinta tersebut dengan murakobah yang ketat. Ia selalu yakin, Allah memberikan pendamping yang baik sesuai kualitas kebaikan dirinya.

Cinta aktivis dakwah bukanlah cinta dusta. Yang berlindung dengan pernyataan, Allah tahu niat saya baik, tapi kemudian melakukan penyimpangan amal. Bukan cinta yang bisu dari pernyataan taushiah dan tuli dari bisikan kebaikan. Bukan cinta yang melenakan dan menjerumuskan kepada kehidupan yang meresahkan.

Bukan cinta yang diobral dengan hiasan kemaksiatan dan sekedar mengejar sebuah tuntutan social. Cinta aktivis dakwah bukan cinta dalam 30 hari mencari cinta. Cinta aktivis dakwah adalah cinta yang terang seterang matahari. Ia penuh dengan ketulusan dan bukan basa-basi. Ia jelas dengan perangkat yang tidak menyimpang dari statusnya sebagai hamba. Cintanya bukan sekedar kedekatan, melainkan juga tanggung jawab. Bukan sekedar romantika dunia, melainkan sendung mulia penduduk langit. Jelas, terang, dan tidak ada sedikit pun yang disembunyikan.

Cinta aktivis dakwah tidak membutuhkan pertanyaan Ada apa dengan Cinta. Cinta aktivis dakwah ada dalam tingkatan ketaatan, Allah Sang Raja, Rasulullah Sang kekasih, Perjuangan yang dirindukan, dan Pasangan hidup yang menyejukkan pandangan, serta anak-anak saleh dan salehah sebagai bunga dan buahnya. Cinta tulus, cinta murni, cinta yang hidup dan menghidupkan

 

by:cyberdakwah